Pada hari Senin 21 Maret 2022, telah diadakan Percakapan Rohani dalam rangka Sinode Tim Pelayanan Kotabaru di GKS Widyamandala yang diikuti oleh Timpel Evangelisasi, Timpel Sakramen Inisiasi, Timpel Katekis, Tim Kerasulan Kitab Suci, Timpel Komsos, OMK, RKK, dan PIA Kotabaru.
Pada pukul 19.00, acara dimulai dengan pembukaan oleh MC, Yovita dan Nicholas dari Timpel Evangelisasi dan doa pembuka oleh Anna dari Timpel Komsos. Kemudian dilanjutkan sambutan oleh Mas Edi Widiasta selaku Kepala Bidang Pewartaan.
Sinode yang dipimpin oleh Rm. Fajar, SJ. ini tidak hanya sharing, melainkan percakapan rohani, mempercakapkan pengalaman iman kita. Menjadi Katolik itu tidak hanya Sabtu dan minggu, belajarlah dari Kisah Para Rasul 2:42-47: mengalami kesedihan dan juga kebahagiaan bersama. Kita disatukan, berdoa bersama dan di sanalah terjadi mukjizat.
Setelah pengantar, kemudian dilanjutkan percakapan iman. Peserta dibagi dalam 4 kelompok. Percakapan rohani sendiri terdiri dari 3 putaran. Putaran pertama, menyampaikan buah-buah refleksi dengan tenang dan kontemplatif. Putaran kedua, mensharingkan apa yang paling menghibur atau paling mengesan dari sharing teman-temanku. Dan putaran ketiga, merangkum gerak-gerak Roh serta berdoa bagaimana Allah sedang menggerakkan aku.
Setelah 3 putaran lalu, ada penampilan band dari tim OMK Kotabaru dan Komsos Kotabaru. Tiap ada kesempatan berkumpul, kelompok-kelompok musik di Kotabaru diberi kesempatan untuk tampil secara bergiliran. Ini merupakan salah satu wujud konkret komitmen menemani perjalanan iman orang muda di Kotabaru.
Seusai sharing dipaparkan rangkuman dari setiap kelompok. Yang menarik, semua kelompok menyebutkan kata kunci yang sama yaitu “terlibat”. Dalam situasi pandemi yang sulit ini, doa menjadi kekuatan untuk menyapa, mendengarkan, dan peduli serta untuk lebih terlibat dalam pelayanan. Dengan terlibat, juga dapat meningkatkan semangat tim-tim pelayanan.
Percakapan Rohani dalam rangka Sinode ini diakhiri oleh Rm. Fajar, SJ dengan rangkumannya “Semakin aku terlibat, aku semakin bermakna, doa dan kerinduan saya pada Tuhan tidak berhenti pada diri sendiri, tetapi menjadi simpati, belarasa, dan semangat.”
Irene Manggar