Sekitar tahun 1920, wilayah Kotabaru masih berupa kampung pinggiran. Rencananya, kampung ini akan menjadi kompleks perumahan bagi orang-orang Belanda yang tinggal di Yogyakarta. Pembuatan kompleks perumahan ini membuat warga kampung terpaksa menyingkir. Tetapi mereka tetap memperoleh ganti rugi. Di kampung ini belum ada orang yang beragama Katolik. Kalau pun ada, satu atau dua orang itu menjadi Katolik karena pewartaan dari Paroki Senopati, Paroki St. Fransiskus Xaverius Kidul Loji.

Awal kegiatan misi katolik di sekitar Kotabaru dimulai dengan kehadiran Romo Fransiskus Strater, SJ sekitar tahun 1918. Sebagai seorang misionaris  awal, Romo Strater, SJ melakukan beberapa langkah berikut. Pertama, Romo Strater menyewa rumah Tuan Perquin -di depan Masjid Syuhada sekarang- untuk dijadikan pastoran, tempat mengajar agama, tempat ibadah, dan novisiat. Kedua, Romo Strater membeli tanah lapang dan kuburan untuk pendirian rumah pembinaan Jesuit yang kemudian diberi nama Kolese Santo Ignatius ( Kolsani).

Selesainya tahap pertama dari pembangunan rumah pembinaan ini ditandai dengan upacara pemberkatan pada tanggal 18 Februari 1923 oleh Romo J. Hoeberechts, SJ, Superior Misi Serikat Jesus pada waktu itu. Pada tanggal 16 Juni 1923, pembinaan novisiat mulai dijalankan di Kolsani. Oleh Romo Straeter, pembina para frater dan sekaligus Rektor Kolese, para frater novis ini seminggu dua kali diutus untuk membantu mengajar para calon baptis di wilayah Jogja dan sekitarnya yang dirintis para guru lulusan Muntilan. Karya pewartaan itu pun membuat umat Katolik semakin bertambah banyak. Kapel Kolese yang biasa digunakan untuk ekaristi oleh para Jesuit dan umat pun tidak mencukupi lagi. Pendirian gereja yang lebih besar menjadi kebutuhan yang mendesak untuk dilaksanakan.

Pada hari Minggu, 26 September 1926 gedung gereja baru diberkati oleh Mgr. A. van Velsen, SJ, Vikaris Apostolik Batavia. Pada waktu itu wilayah yang kemudian menjadi Keuskupan Agung Semarang ini memang menjadi bagian dari Vikariat Batavia. Nama pelindung gedung gereja yang baru adalah St. Antonius Padua sesuai dengan permintaan dari donatur pembangunan gedung gereja. Donatur yang sama juga mendanai dua gedung gereja lain yaitu Santo Antonius Padua Muntilan dan Purbayan, Solo.

Status gereja ini adalah milik Kolese St. Ignatius, Kolsani. Oleh karena itu juga biasa disebut Gereja Rektorat, artinya Rektor Kolese juga sekaligus menjabat sebagai pastor kepala. Pada tahun 1926 itu wilayah Kotabaru merupakan stasi dari Paroki Kidul Loji, dan baru menjadi paroki mandiri pada tanggal 1 Januari 1934. Dengan menjadi paroki mandiri, paroki Kotabaru memiliki buku permandian dan perkawinan sendiri. Perkawinan dan permandian yang terlanjur dicatat di paroki Kidul Loji dicatat ulang dalam buku perkawinan dan permandian Kotabaru. Sekedar ilustrasi, Buku Baptis –Liber Baptismorum– tertua yang ada di sekretariat Kotabaru mencatat adanya 20 baptisan dewasa pada tanggal 13 dan 14 Agustus 1922 oleh Romo Staeter antara lain atas nama Lucia Roestinah dan Raden Mas Petrus Philippus Soetardja.

Selain membantu memberi pelajaran agama ke desa-desa sekitar Jogja, strategi lain yang digunakan Romo Strater untuk menyebarkan Kabar Gembira adalah lewat sekolah. Berdirinya Yayasan Pendidikan Kanisius pada tahun 1918 merupakan bentuk konkret dari keprihatinan-nya untuk mendidik pribumi. Dalam waktu relatif singkat, puluhan sekolah didirikan di daerah Jogya dan sekitarnya. Tidak berlebihan mengatakan bahwa sekolah-sekolah Kanisius hadir sampai jauh ke pedalaman dan daerah-daerah terpencil yang bahkan belum dijangkau oleh sekolah-sekolah negri.

Pada zaman pendudukan Jepang 1942-1945, para romo dan biarawan-biarawati dari Belanda dimasukkan ke kamp tahanan. Kolsani menjadi tempat penampungan tahanan bagi suster-suster dan wanita-wanita Belanda. Bangunan IPPAK sekarang menjadi kantor pemerintahan Jepang. Gereja tidak berfungsi sebagaimana mestinya karena dijadikan gudang, karena itu kegiatan peribadatan dilakukan di Widyamandala dan di Kumetiran dengan membeli sebuah rumah kuno berbentuk joglo dan berhalaman luas. Selama masa-masa sulit ini dan karena tenaga-tenaga gerejani ditahan, untuk menjaga iman umat, dibentuklah kring-kring di setiap kampung. Sebenarnya kring ini sudah ada sejak tahun 1938, tetapi bertambah dengan cepat sesudah Jepang berkuasa. Ketua kring bertindak sebagai gembala dan mewakili imam untuk upacara kematian, pengajaran agama kepada anak-anak keluarga Katolik dan kepada para calon baptis.

Dengan kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945, semua bangunan yang diduduki Jepang diserahkan kembali kepada pemiliknya. Aktivitas gerejani pun mulai bergulir kembali. Rumah joglo di Kumetiran yang pada mulanya berfungsi sebagai gedung gereja sementara, melanjutkan peran dan fungsinya secara permanen dan selanjutnya menjadi gereja dari Paroki Kumetiran.

Pada masa Agresi Militer Belanda II, 19 Desember 1948 – 29 Juni 1949, tentara Belanda menduduki Yogyakarta. Gereja Kotabaru terbuka juga bagi orang-orang Katolik Belanda. Pelayanan misa pada hari Minggu dirayakan dua kali; pagi hari dirayakan untuk orang Indonesia, sedangkan misa untuk orang dan tentara Belanda Katolik dirayakan pukul 11.00. Sesudah Belanda mengakui kemerdekaan Republik Indonesia pada tahun 1949, situasi menjadi normal kembali. Mulai tahun 1950 Gereja dapat berkarya dengan tenang. Romo G. de Quay, SJ yang berkarya di Kotabaru tahun 1953-1958 menilai masa-masa kegembalaan-nya sebagai masa konsolidasi. Pada masa ini banyak usaha untuk mengembangkan pendidikan yang berlangsung di Kotabaru meskipun diselenggarakan oleh badan lain, seperti pendirian sekolah-sekolah  SDK Kotabaru, SDK Demangan, SDK Sorowajan, SD dan SMP Baciro, SMA dan SPG Stella Duce, SMA Kolese de Britto, IKIP Sanata Dharma pada tahun 1955.

Dalam perkembangan selanjutnya, stasi-stasi atau tempat-tempat yang dilayani oleh Paroki Kotabaru semakin besar dan mandiri. Stasi Baciro, Jetis, dan Banteng merupakan stasi-stasi di dalam kota yang akhirnya menjadi paroki sendiri. Pada tahun 1961 didirikan gereja Baciro dan pada tahun 1963, Baciro menjadi paroki mandiri. Pada tahun 1965, Jetis juga menjadi paroki sendiri. Pada tahun 1968, umat di Banteng sudah memiliki gereja sendiri dan digembalakan oleh Romo-romo Keluarga Kudus (MSF). Demikian pula daerah-daerah di luar kota juga bertambah dalam jumlah dan meluas secara wilayah, seperti Mlati, Medari, Somohitan, Klepu, Sedayu, Wates, Wonosari-Gunung Kidul.

Semangat Konsili Vatikan II menghendaki paroki berdikari dalam segala hal. Selama ini Paroki Kotabaru belum memiliki pastorie, rumah bagi para pastor-nya. Para romo yang melayani paroki masih menyatu dengan Kolese. Sewaktu Romo van Heusden berkarya di Kotabaru pada tahun 1964-1972, bersama Romo T. Widyono, 1965-1969, dan Romo Holthuizen, 1967-1973, pada tahun 1966 Paroki Kotabaru berhasil membeli bangunan Asuransi Bumi Putera di Jalan Nyoman Oka 18. Sejak saat itu paroki mempunyai gedung pastoran di sebelah utara gereja. Pada tahun 1967 Kolsani menyerahkan gereja kepada paroki, tetapi pemisahan sepenuhnya baru terjadi pada awal tahun 1975, sewaktu Kotabaru di bawah penggembalaan Romo Harsosuwito.

Meskipun Kotabaru telah beranak pinak menjadi sekian banyak paroki dan dengan sendirinya wilayah pelayanan-nya secara teritorial semakin terbatas, banyak umat dari berbagai paroki yang tetap merayakan ekaristi di Kotabaru. Sewaktu tongkat estafet pelayanan Kotabaru ada di tangan Romo FX Wiryapranata, SJ (1980-1986), beliau mencanangkan Kotabaru sebagai Gereja terbuka; terbuka bagi siapa saja yang ingin terlibat aktif dalam kegiatan-kegiatan gerejani di Kotabaru. Nanti, di tahun 1995, sewaktu Romo Widadaprayitna yang lama berkarya di antara kaum muda di Jakarta bertugas di Kotabaru, beliau langsung menangkap bahwa sebagian besar umat yang hadir di Kotabaru adalah kaum muda. Perhatian kepada kaum muda pun menjadi prioritas pelayanan selama masa baktinya di Kotabaru, tahun 1995-2002. Sejak saat itu Gereja Kotabaru mendapat label tambahan sebagai Gereja-nya Orang Muda.

Sebelum memasuki millenium ketiga, beberapa catatan penting patut mendapat perhatian pula. Banyaknya umat yang hadir dalam ekaristi, menggerakkan Romo Wirjapranata untuk memperluas gereja dengan membangun sayap utara. Pada tanggal 14 Juli 1985, pelaksana pembangunan menyerahkan sayap utara kepada panitia sebagai tanda selesainya perluasan gereja. Bangunan sayap utara akan terus-menerus disempurnakan sampai akhirnya menjadi seperti sekarang ini. Sejalan dengan pembenahan gedung gereja, supaya peribadatan berjalan khidmat dan nyaman, tidak lupa Kotabaru memperhatikan pula pelayanan sosial dengan membangun Gedung Karya Sosial Widyamandala. GKS ini dibangun sewaktu Kotabaru di bawah penggembalaan Romo Windyatmaka, tahun 1988-1990 yang juga melengkapi keperluan liturgi dengan menyediakan seperangkat gamelan supaya Gereja tetap bisa menghargai warisan budaya di dalam memuji Tuhan. Masuknya khasanah budaya di gereja Kotabaru juga tampak dari lukisan dinding yang dibuat di masa penggembalaan Romo Gundhart Gunarto, tahun 1990-1995.

Membenahi dan melengkapi sarana fisik terus berlanjut. Di awal millennium baru giliran pastoran yang mendapat perhatian. Di masa penggembalaan Romo Sriyanto, 2002-2006, sarana fisik yang dibangun adalah Aula Pastoran yang dilengkapi dengan ruang-ruang kecil untuk dipakai oleh tim-tim kerja kecil. Sarana ini dirasa mendesak karena banyaknya kelompok dan kegiatan sementara GKS letaknya di luar kompleks pastoran. Bangunan baru di pastoran ini memungkinkan kontak dan sapaan yang lebih dekat dan mudah. Tambahan sarana fisik yang perlu dicatat adalah “Tenda Putih”, tenda permanen yang ditempatkan antara “Sayap Utara” dan bangunan Kolsani. Munculnya bangunan terbuka ini tidak bisa dilepas dari peran Romo Hardaputranta (2009-2016) yang menjadi Pastor Kepala pada tahun 2011, mengambil posisi Romo Wisnumurti (2006-2011) yang meninggal karena kecelakaan lalu lintas di daerah Muntilan, Magelang pada hari Sabtu, 11 Februari 2011.

Hadirnya “Tenda Putih” sebenarnya mencerminkan semakin bertambahnya umat yang menghadiri ekaristi di Kotabaru, khususnya pada Hari Minggu. Banyaknya pelayanan ekaristi baik harian –tiga kali- maupun mingguan –tujuh kali- tidak terlepas pula dari jalinan kerjasama yang baik antara Kotabaru dengan komunitas-komunitas Jesuit di Jogyakarta, seperti Kolsani, IPPAK, Sanata Dharma, De Britto. Keterlibatan para Jesuit ini terasa di dalam ekaristi mingguan khususnya menjadikan renungan-homili para romo-nya lebih bervariasi. Menyelami dan mengenal lebih dekat aktivitas harian di pastoran akan terlihat bahwa “Gereja terbuka” yang diawali oleh Romo Wirjapranata tidak terbatas pada pelayanan altar-liturgi. Pastoran Kotabaru menjadi “jujugan” para pasien yang dirawat di RS Panti Rapih, RS Bethesda, RS Sardjito; belum yang menyangkut urusan ekonomi, sosial, pendidikan, keluarga, dll. Semoga “tambahnya urusan” ini bukan dirasa sebagai beban tetapi lebih merupakan kelimpahan berkat dari pilihan menjadi “Gereja terbuka” tadi.

Sebagaimana diharapkan Bapa Suci Fransiskus, semoga “pintu-pintu” Gereja Kotabaru selalu dalam keadaan terbuka sewaktu ada orang yang mau masuk untuk berdoa atau ada orang yang ingin kembali dari perjalanan:

“Gereja dipanggil untuk menjadi rumah Bapa, dengan pintu-pintu yang selalu terbuka. Satu tanda nyata dari keterbukaan seperti itu adalah bahwa pintu-pintu gereja kita hendaknya selalu terbuka, sehingga jika ada seseorang, digerakkan oleh Roh, datang ke sana mencari Allah, ia tidak akan mendapati sebuah pintu yang tertutup…” (EG 47).

Sumber:

Moedjanto, dkk. Sejarah Gereja Kotabaru Santo Antonius dan Kehidupan Umatnya, Yogyakarta: Panitia Peringatan 50 Tahun Gereja Santo Antonius Kotabaru, hlm. 15-25

Teks Perayaan Ekaristi dan Warta Iman HUT Ke-84 Gereja St. Antonius Kotabaru, Minggu biasa XXVI/C, 25-26 September 2010, hlm. 3

Revisi dan koreksi oleh Rm. Floribertus Hasto Rosariyanto, SJ

Peta Wilayah Paroki