Dalam semangat mewujudkan pertobatan ekologis, Tim Keadilan, Perdamaian, dan Keutuhan Ciptaan (KPKC) Paroki Gereja Kota Baru mengundang seluruh perwakilan lingkungan serta tim pelayanan untuk saling belajar dan berbagi pengalaman mengenai cinta terhadap bumi dan lingkungan hidup. Kegiatan ini berlangsung pada Minggu, 19 Juli 2025, sebagai bagian dari gerakan “Menuju Paroki Hijau” yaitu sebuah inisiatif untuk menjadikan paroki sebagai agen perubahan dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup.

Program Paroki Hijau merupakan bentuk nyata implementasi ajaran Paus Fransiskus dalam Ensiklik Laudato Si’, yang mengajak seluruh umat Katolik untuk peduli terhadap krisis ekologis. Tujuan utamanya adalah membangun kesadaran dan tindakan konkret dalam merawat bumi, serta menciptakan komunitas paroki yang ekologis, berkelanjutan, dan solider terhadap ciptaan Tuhan.

Sesi pertama dibawakan oleh Agustinus Sumaryoto yang mengajak peserta untuk memahami makna pertobatan ekologis secara lebih mendalam. Ia menekankan bahwa alam bukan sekadar sumber daya, tetapi rumah bersama yang harus dihormati dan dijaga. “Pertobatan ekologis bisa dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti membawa botol minum sendiri ke setiap pertemuan untuk mengurangi limbah plastik,” ujarnya.

Sesi kedua menghadirkan Eko Lima Sari Nugroho, yang menyoroti hubungan antara gaya hidup sehat dan kepedulian lingkungan. Ia mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan rumah dan memperhatikan bahan-bahan yang kita gunakan sehari-hari. “Botol minum yang kita pakai, perlu dipastikan bebas BPA karena zat ini bisa berdampak buruk bagi kesehatan, bahkan menyebabkan penyakit serius seperti kanker,” jelasnya.

Sesi ketiga dibawakan oleh Kianto Atmodjo, dosen Bioteknologi dari Universitas Atma Jaya. Ia memandu peserta dalam praktik langsung membuat kompos dari sisa dapur seperti kulit buah dan sisa daging. Praktik ini menunjukkan bahwa pengelolaan sampah rumah tangga bisa menjadi solusi ramah lingkungan yang berguna bagi bumi. Kompos yang telah dibuat akan ditindaklanjuti dalam 2–3 hari untuk melihat hasil akhirnya. Di akhir sesi, Kianto menegaskan semangat bersama melalui seruan, “Laudato Si’ Hamemoyo: Merawat alam kita pasti bisa.”

Kegiatan “Menuju Paroki Hijau” ini menjadi langkah awal yang penting dalam membangun kepedulian terhadap alam dan sesama di tengah komunitas Gereja. Melalui edukasi, refleksi, dan praktik langsung, kita diajak untuk tidak hanya memahami krisis lingkungan secara teori saja, tetapi juga mengubah perilaku sehari-hari secara konkret. Dengan semangat Laudato Si’ Hamemoyo, Paroki Gereja Kota Baru berupaya untuk berkomitmen dan berkesadaran bahwa merawat bumi bukan sekadar pilihan, tetapi panggilan iman yang harus dijalankan bersama, dimulai dari hal-hal kecil yang berdampak besar.