Pada hari Selasa dan Rabu, 4 dan 5 Maret 2025, umat Katolik merayakan Rabu Abu sebagai awal masa Prapaskah, periode refleksi dan pertobatan menjelang Paskah. Dalam perayaan ini, umat menerima tanda abu di dahi sebagai simbol pertobatan dan pengingat bahwa manusia berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu. Misa ini dihadiri oleh ratusan umat yang datang untuk menerima abu sebagai simbol pertobatan dan refleksi diri.

Bacaan liturgi diambil dari Injil Matius 6:1-6 dan 16-18, dimana Yesus mengajarkan tentang ketulusan dalam menjalankan amal, doa, dan puasa. “Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” (Mat 6:18). Yesus mengingatkan agar setiap perbuatan baik dilakukan dengan tulus, bukan untuk mencari pujian dari manusia, melainkan sebagai bentuk kesetiaan kepada Allah. Selain itu, bacaan liturgi juga mengingatkan kita untuk bertobat dengan hati yang tulus dan segera memperbaiki diri.

Dalam homili, para Imam menekankan bahwa setiap orang adalah pendosa dan membutuhkan pertobatan, tidak hanya secara lahiriah, melainkan pertobatan yang sungguh-sungguh dari hati. Selain itu, umat juga diajak untuk menunjukkan bahwa sebagai pengikut Kristus, kita harus berjuang menjadi pribadi yang lebih baik sebagai tanda pertobatan sejati yang mencakup seluruh aspek kehidupan—pikiran, perkataan, perbuatan, dan waktu kita. Melalui kesempatan ini, umat diharapkan semakin mendekatkan diri kepada Tuhan dan mempersiapkan diri dengan baik menuju perayaan Paskah. Semoga masa Prapaskah ini membawa berkat dan pertobatan yang sejati bagi seluruh umat beriman dalam menjalani hidup yang lebih baik dalam kasih dan pengampunan.

Veronica Riza & Yohanes Erlangga