Jumat, 4 September 2026, Perayaan Ekaristi Jumat Pertama sekaligus Novena Kesembilan dalam rangka HUT ke-100 tahun Gereja Kotabaru dilaksanakan secara konselebrasi dengan selebran utama Rm. Kuntoro, SJ, didampingi oleh Rm. Fajar, SJ; Rm. Hasto, SJ; dan Rm. Agus, SJ.

Perayaan diawali dengan perarakan ikon Santo Robertus Bellarminus beserta relikui Santo Robertus Bellarminus, St. Claudius La Colombiere, St. Margareta Maria Alacoque, dan Salib Suci Tuhan. Perayaan Ekaristi diiringi oleh kor dari Campus Ministry Universitas Sanata Dharma. Novena kali ini mengambil inspirasi dari Santo Robertus Bellarminus; seorang Jesuit yang oleh Paus diangkat menjadi pujangga gereja. Semasa hidupnya, beliau dikenal tekan menyusun buku-buku katekismus agar umat pada zamannya semakin mengenal Allah; sebuah teladan untuk terus memperbarui iman sesuai perkembangan zaman.

Dalam homilinya, Rm. Kuntoro, SJ mengawali dengan merenungkan Injil tentang anggur baru yang tidak boleh dimasukkan ke dalam kantong kulit yang lama, sebab keduanya akan sama-sama rusak. Melalui perumpamaan ini, Yesus memberi pemaknaan baru atas kebiasaan lama umat Israel. Mengaitkannya dengan Santo Robertus Bellarminus, pujangga gereja yang dihadirkan dalam novena kali ini, beliau mengajak umat untuk terus memperbarui diri mengenal Allah sesuai zamannya, seraya mengutip Pater Pedro Arrupe yang menyatakan tidak takut pada dunia baru, melainkan takut jika gereja tidak lagi memiliki sesuatu yang relevan untuk ditawarkan kepadanya.

Mengusung tema tiga daya jiwa – nalar, rasa, dan kehendak – Rm. Kuntoro, SJ membagikan pengalamannya mendampingi Komisi Pendidikan dalam menyatukan ketiga daya tersebut secara bersama-sama bagi banyak orang. Beliau menegaskan bahwa jarak antara nalar dan hati mungkin singkat, tetapi menyatukannya dengan kehendak hingga menjadi tindakan nyata membutuhkan proses panjang, penuh pengulangan dan kesabaran; karakter baik tidak serta hanya karena dituliskan sebagai visi sekolah. Untuk menjembatani hal ini, beliau memaparkan lima kesepakatan yang lahir dari refleksi bersama para pendidik: bernalar melalui pendekatan etika, memberi teladan nyata, menegaskan karakter yang perlu terus dilatih, menyediakan beragam pelatihan dan perjumpaan (srawung), serta membiasakan refleksi untuk memaknai pengalaman.
Homili ditutup dengan kisah jenaka tentang “Ibu Bambang”, tokoh Dharma Wanita yang dikenal piawai menyelesaikan konflik rumah tangga hanya dalam lima menit dengan caranya sendiri yang unik. Melalui kisah ini, Rm. Kuntoro, SJ mengingatkan umat bahwa menumbuhkan integritas antara nalar, rasa, dan kehendak adalah perjuangan yang tak pernah selesai, dan senantiasa membutuhkan cara-cara baru yang relevan bagi mereka yang didampingi.
Verena Bernadette Erlinda S