Pagi hari Jumat, 18 April 2025, suasana di Gereja St. Antonius Padua Kotabaru telah dipenuhi oleh umat yang datang dalam keheningan dan penghayatan. Hari itu menjadi momen penting dalam rangkaian Trihari Suci, diawali dengan ibadat Jalan Salib yang menggugah hati. Memasuki siang hari, Gereja menyelenggarakan tiga kali Ibadat Jumat Agung yang berlangsung dalam suasana yang sangat hening dan penuh permenungan. 

Perayaan diawali imam imam membungkuk dan tiarap di depan altar, tanda penyerahan total dan duka mendalam atas wafatnya Kristus. Keheningan yang menyelimuti gereja memperdalam suasana batin umat yang hadir.

Dalam perayaan pertama, Romo Hasto, SJ mengingatkan umat bahwa salib bukan hanya tanda penderitaan, melainkan juga lambang kasih yang hadir bagi semua orang. Ia menegaskan bahwa tidak ada kata terlambat untuk bertobat dan bahwa Yesus selalu hadir dalam hidup kita. Umat diajak untuk merenung: “Beranikah kita berkurban demi sesama dan Tuhan?”

Dalam ibadat kedua, Romo Nicolaus Devianto Fajar, SJ mengajak umat mendalami makna kata “selesai” yang diucapkan Yesus sebelum wafat-Nya. Ia menjelaskan bahwa “selesai” bukanlah sekadar akhir dari penderitaan, melainkan penggenapan dari karya keselamatan. Wafat Kristus bukan akhir dari sebuah kisah kepahlawanan, tetapi puncak kasih yang menyelamatkan seluruh umat manusia.

Sementara itu, pada ibadat ketiga yang tetap dipadati oleh umat, Romo Kuntoro, SJ mengajak seluruh umat masuk lebih dalam ke dalam misteri salib. Ia mengajak untuk tidak melihat salib sekadar sebagai simbol penderitaan, tetapi sebagai lambang kesetiaan dan keteguhan dalam menyelesaikan tugas hidup yang dipercayakan Tuhan. Seperti Yesus yang setia sampai akhir, umat pun diajak untuk menjalani panggilan hidup mereka dengan keteguhan hati, meskipun penuh tantangan.

Dengan tiga kali ibadat yang masing-masing membawa pesan mendalam, Jumat Agung di Gereja Kotabaru menjadi ruang refleksi spiritual yang kaya akan makna. Umat diajak untuk menatap salib bukan dengan rasa takut, tetapi dengan iman yang tumbuh dari kasih, pengharapan, dan kerendahan hati. Sebuah undangan untuk tetap setia, bahkan dalam gelapnya pergumulan, bersama Kristus yang telah terlebih dahulu setia sampai tuntas.

Emanuella Gracia & Bernadheta Lely