Pada hari minggu tanggal 27 Juni 2025 kata “Purify” dilontarkan pada Ekaristi Kaum Remaja, dimana kata tersebut memiliki sebuah arti yang sangat amat baik bagi kita semua.

Ekaristi yang di Pimpin Oleh Rm Hugo Bayu Hadibowo, SJ dan homili dibawakan oleh Frater Benicdiktus Juliar Elmawan, SJ yang mengajak kita agar “membasuh”, dan apa makna dari kata membasuh itu? 

Sebelum homili di mulai ada sebuah video yang di tayangkan tentang seorang remaja yang sedang mencari spot foto di suatu tempat dan ada orang yang tak dikenal membutuhkan pertolongan. Orang tersebut bercerita bahwa orang tuanya sedang mengalami musibah dan orang tersebut tidak memiliki uang untuk pulang ke rumah orang tuanya. Lalu seorang remaja tersebut memberikan bantuan berupa uang agar orang tersebut bisa kembali pulang. Saat remaja itu pulang dan bertemu teman nya ia bercerita bahwa remaja tersebut memberikan bantuan orang tak dikenal dan yang ternyata itu uang terakhirnya. Teman yang mendengar cerita remaja tersebut menjadi kesal karena ia menganggap bahwa remaja tersebut melakukan kesalahan dimana remaja tersebut seharusnya tidak perlu membantu orang yang tidak dikenal apalagi remaja tersebut yang sebenarnya juga membutuh kan. Tapi remaja tersebut beralasan agar ia bisa ‘membasuh’, temanya juga berkata bahwa dia bukanlah Yesus yang bisa selalu berbuat baik kepada setiap orang. mendengar hal tersebut remaja tersebut hanya bisa termenung dan tersenyum kecil dan perlahan senyum pun menghilang. Lalu remaja tersebut membuka lemari dan menemukan Alkitab, ia membuka Alkitab lalu ada kutipan ayat yang berbunyi “Jadi, jikalau Aku, Tuhan dan Gurumu, membasuh kakimu, kamu pun wajib saling membasuh kakimu. dan remaja tersebut membalik lembaran alkitab lagi dan menemukan sebuah amplop bertuliskan “dari mama untuk rafael” dan ternyata amplop tersebut berisikan uang dengan jumlah yang sama seperti ia membantu orang yang tidak dikenal tadi.
Video tersebut dibuat oleh Remaja Katolik Kotabaru (RKK).

Dari Cuplikan Video tersebut frater Benicdiktus Juliar Elmawan, SJ memberikan 3 poin.
Yang pertama adalah Konsistenlah dalam berusaha dan berbuat baik yang berpesan bahwa usaha jauh lebih mudah dibandingkan dengan konsisten untuk berbuat baik, alangkah baiknya kita berusaha untuk konsisten dalam mencapai sebuah tujuan.
Lalu poin yang kedua adalah jangan berhenti mengampuni. Mengulang dari bacaan pertama tentang sodom dan gomora, dimana sodom dan gomora yang akan dimusnahkan oleh Tuhan look karena tidak bisa diberi teguran, dan lalu Abraham memohon kepada Tuhan agar diampuni dan ya Tuhan akhirnya mengampuni. Hal ini mengingatkan kita agar selalu mengampuni walaupun berada di titik tersulit yaitu seperti mengampuni disaat kita tersakiti, diIbaratkan seperti kita menggenggam keras tangan kita selama beberapa waktu dan hal tersebut membuat kita lelah, sama seperti halnya dimana jika kita memendam kebencian akan berdampak buruk bagi diri sendiri yang sebenarnya kita bisa merelakan melepaskan agar tidak ada suatu kebencian dalam diri kita.
Dan poin yang ke tiga Jangan sungkan meminta tolong. Sebagai orang muda kita merasakan bahwa kita bisa melakukan semuanya sendiri, padahal sebenarnya kita bisa rendah diri untuk meninta pertolongan agar dapat mempermudah diri kita seperti pada kutipan dari Matius7:7 yang berisikan ‘mintalah maka kamu akan diberi, carilah maka kamu akan mendapat, ketoklah maka akan dibukakan bagi mu. Kutipan tersebut mengingatkan kita bahwa kita gagal makan hal itu adalah kesempatan untuk meminta pertolongan ke Tuhan, sebagai manusia kita tidak dapat hidup sendiri.

Lalu Frater mengajak para umat untuk menyanyikan sebuah cuplikan lagu dinyanyikan oleh Hindia yang berjudul “membasuh” sesuai dengan yang dibahas dalam cuplikan video tadi. Lagu tersebut membawa suasana tenang dan banyak umat yang ramai ikut serta bernyanyi terlebih Gen-Z, juga memaknai kita tetap bisa memberi sesuatu walaupun kita tau kita tidaklah suci dan dapat mengobati walaupun kita tau kita sedang merasakan kesakitan.