<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ignatian | Gereja Kotabaru</title>
	<atom:link href="https://parokikotabaru.org/category/spiritualitas/ignatian/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://parokikotabaru.org</link>
	<description>Paroki St. Antonius Kotabaru Yogyakarta</description>
	<lastBuildDate>Wed, 03 Aug 2022 08:52:18 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.10</generator>

<image>
	<url>https://parokikotabaru.org/wp-content/uploads/2026/07/cropped-Desain-tanpa-judul-1-32x32.png</url>
	<title>Ignatian | Gereja Kotabaru</title>
	<link>https://parokikotabaru.org</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Pemberkatan Air Ignatius</title>
		<link>https://parokikotabaru.org/pemberkatan-air-ignatius/</link>
					<comments>https://parokikotabaru.org/pemberkatan-air-ignatius/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Komsos Kotabaru]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 03 Aug 2022 08:52:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita Kotabaru]]></category>
		<category><![CDATA[Ignatian]]></category>
		<category><![CDATA[Spiritualitas]]></category>
		<category><![CDATA[Spiritualitas Ignatian]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://parokikotabaru.org/?p=22004</guid>

					<description><![CDATA[&#160; Pada hari Jumat, 29 Juli 2022 dalam serangkaian peringatan pesta nama St. Ignatius Loyola, Pastor Paroki, Rm. Macarius Maharsono Probho, SJ beserta tiga orang umat berkumpul untuk pemberkatan air [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img loading="lazy" decoding="async" class="size-medium wp-image-22006 alignleft" src="https://parokikotabaru.org/wp-content/uploads/2022/08/foto-3-200x300.jpg" alt="" width="200" height="300" /></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pada hari Jumat, 29 Juli 2022 dalam serangkaian peringatan pesta nama St. Ignatius Loyola, Pastor Paroki, Rm. Macarius Maharsono Probho, SJ beserta tiga orang umat berkumpul untuk pemberkatan air Ignatian. Air Ignatian ini diberkati dengan ujub doa permohonan terkhusus agar dapat melahirkan dengan selamat dan/atau agar menjadi sehat. Pemberkatan Air Ignatian berjalan dengan singkat namun tetap khusyuk.</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-22007" src="https://parokikotabaru.org/wp-content/uploads/2022/08/foto-2-300x169.jpg" alt="" width="300" height="169" /> <img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-22005" src="https://parokikotabaru.org/wp-content/uploads/2022/08/foto-4-300x169.jpg" alt="" width="300" height="169" /></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maria Angelique</span></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://parokikotabaru.org/pemberkatan-air-ignatius/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Karakter Konsolasi dan Roh Baik</title>
		<link>https://parokikotabaru.org/karakter-konsolasi-dan-roh-baik/</link>
					<comments>https://parokikotabaru.org/karakter-konsolasi-dan-roh-baik/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Komsos Kotabaru]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 21 Feb 2020 11:56:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ignatian]]></category>
		<category><![CDATA[Spiritualitas]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://parokikotabaru.org/?p=20922</guid>

					<description><![CDATA[Konsolasi bisa berupa konsolasi fisik, psikis, dan rohani. Konsolasi fisik itu seperti rasa segar saat mandi dengan air hangat. Konsolasi psikis itu seperti kegembiraan karena mendapatkan nilai bagus saat ujian. [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="margin-top: 0pt; padding-top: 0; margin-bottom: 8pt; padding-bottom: 0; line-height: 1.3;">Konsolasi bisa berupa konsolasi fisik, psikis, dan rohani. Konsolasi fisik itu seperti rasa segar saat mandi dengan air hangat. Konsolasi psikis itu seperti kegembiraan karena mendapatkan nilai bagus saat ujian. Sementara konsolasi rohani adalah kegembiraan karena dekat dengan Tuhan. Berikut ini beberapa karakter dari konsolasi rohani:</p>
<ol style="list-style-type: none; margin: 0;">
<li style="margin: 0;">
<div style="margin-top: 0pt; padding-top: 0; margin-bottom: 0; padding-bottom: 0; line-height: 1.3; margin-left: 36pt;"><span style="display: inline-block; position: relative; text-indent: -18pt;">1.</span>Berkembang dalam iman, harapan, dan kasih</div>
<p style="text-align: left; margin-bottom: 0; padding-bottom: 0; line-height: 1.3; margin-left: 36pt;">Dalam konsolasi kita akan semakin percaya pada kehadiran Tuhan. Kita juga akan menjalani hidup dengan penuh semangat karena memiliki harapan pada Tuhan. Kita dengan gembira pula melayani orang lain.</p>
</li>
<li style="margin: 0;">
<div style="margin-bottom: 0; padding-bottom: 0; line-height: 1.3; margin-left: 36pt;"><span style="display: inline-block; position: relative; text-indent: -18pt;">2.</span>Merasakan kedekatan dengan Tuhan</div>
<p style="text-align: left; margin-bottom: 0; padding-bottom: 0; line-height: 1.3; margin-left: 36pt;">Dalam konsolasi, kita menyadari peran atau rahmat Tuhan dalam peristiwa-peristiwa hidup kita. Hal ini membuat kita merasakan bahwa Tuhan hadir dalam hidup kita. Kita merasakan kedekatan dengan Tuhan.</p>
</li>
<li style="margin: 0;">
<div style="margin-bottom: 0; padding-bottom: 0; line-height: 1.3; margin-left: 36pt;"><span style="display: inline-block; position: relative; text-indent: -18pt;">3.</span>Merasakan kedamaian dan ketenangan</div>
<p style="text-align: left; margin-bottom: 0; padding-bottom: 0; line-height: 1.3; margin-left: 36pt;">Dalam konsolasi, kita sadar bahwa Tuhan menyertai hidup ini. Dengan kesadaran ini, kita tidak merasa khawatir sebab sesulit apapun hidup ini ada Tuhan yang akan membantu kita. Karena itu, kita merasakan kedamaian dan ketenangan dalam iman akan Kristus.</p>
</li>
<li style="margin: 0;">
<div style="margin-bottom: 0; padding-bottom: 0; line-height: 1.3; margin-left: 36pt;"><span style="display: inline-block; position: relative; text-indent: -18pt;">4.</span>Keinginan kuat untuk mengikuti Tuhan</div>
<p style="text-align: left; margin-bottom: 0; padding-bottom: 0; line-height: 1.3; margin-left: 36pt;">Kedekatan dengan Tuhan menggerakkan kita untuk mengikuti-Nya. Tuhan sendiri juga memanggil kita untuk selalu mengikuti-Nya. Maka dalam konsolasi, kita memiliki keinginan kuat untuk dekat dan melaksanakan perintah Tuhan.</p>
</li>
<li style="margin: 0;">
<div style="margin-bottom: 0; padding-bottom: 0; line-height: 1.3; margin-left: 36pt;"><span style="display: inline-block; position: relative; text-indent: -18pt;">5.</span>Transparansi</div>
<p style="text-align: left; margin-bottom: 8pt; padding-bottom: 0; line-height: 1.3; margin-left: 36pt;">Jika dalam desolasi cenderung menutup diri, dalam konsolasi orang berani membagikan pengalamannya, baik yang terang maupun gelap pada orang lain.</p>
</li>
</ol>
<p style="margin-top: 0pt; padding-top: 0; margin-bottom: 8pt; padding-bottom: 0; line-height: 1.3;">
<p style="margin-top: 0pt; padding-top: 0; margin-bottom: 8pt; padding-bottom: 0; line-height: 1.3;">Sumber: Mark E. Thibodeaux, SJ, <em>God’s Voice Within, </em>Chicago: Loyola Press, 2010, hlm. 43-58.</p>
<p>Win SJ</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://parokikotabaru.org/karakter-konsolasi-dan-roh-baik/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Cara Menanggapi Desolasi</title>
		<link>https://parokikotabaru.org/cara-menanggapi-desolasi/</link>
					<comments>https://parokikotabaru.org/cara-menanggapi-desolasi/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Komsos Kotabaru]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 17 Feb 2020 09:34:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ignatian]]></category>
		<category><![CDATA[Spiritualitas]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://parokikotabaru.org/?p=20918</guid>

					<description><![CDATA[Desolasi merupakan keadaan yang tidak menyenangkan. Bagaimana kita menanggapinya? Berikut ini adalah tindakan dan sikap yang perlu kita ambil saat dalam desolasi: 1.Menamai desolasi tersebut Menamai berarti menguasai. Dalam Kitab [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify; margin-top: 0pt; padding-top: 0; margin-bottom: 8pt; padding-bottom: 0; line-height: 1.3;">Desolasi merupakan keadaan yang tidak menyenangkan. Bagaimana kita menanggapinya? Berikut ini adalah tindakan dan sikap yang perlu kita ambil saat dalam desolasi:</p>
<ol style="list-style-type: none; margin: 0;">
<li style="margin: 0;">
<div style="margin-top: 0pt; padding-top: 0; margin-bottom: 0; padding-bottom: 0; line-height: 1.3; margin-left: 36pt;"><span style="display: inline-block; position: relative; text-indent: -18pt;">1.</span>Menamai desolasi tersebut</div>
<p style="text-align: left; margin-bottom: 0; padding-bottom: 0; line-height: 1.3; margin-left: 36pt;">Menamai berarti menguasai. Dalam Kitab Kejadian, Adam menamai hewan-hewan sebagai tanda bahwa ia menguasai hewan-hewan tersebut. Secara psikologis, memberi nama pada suatu peristiwa dapat melegakan kita. Maka kita perlu mengakui dan menamai desolasi yang kita alami. Misalnya: “Aku sedang mengalami kelesuan dan kemalasan dalam studi, hidup rohani, dan relasi” atau “Aku sedang merasa Tuhan itu jauh dari hidupku”</p>
</li>
<li></li>
<li style="margin: 0;">
<div style="margin-bottom: 0; padding-bottom: 0; line-height: 1.3; margin-left: 36pt;"><span style="display: inline-block; position: relative; text-indent: -18pt;">2.</span>Tidak membuat/merubah keputusan penting</div>
<p style="text-align: left; margin-bottom: 0; padding-bottom: 0; line-height: 1.3; margin-left: 36pt;">Dalam desolasi, orang kehilangan obyektivitasnya sehingga tidak jernih dalam melihat suatu persoalan. Biasanya, kita akan tergoda untuk merasa bahwa ketidaknyamanan ini dikarenakan keputusan sebelumnya salah. Karena itu, hendaknya kita tidak mengubah atau membuat keputusan penting yang baru. Kita perlu menunggu sampai batin kita tenang.</p>
</li>
<li></li>
<li style="margin: 0;">
<div style="margin-bottom: 0; padding-bottom: 0; line-height: 1.3; margin-left: 36pt;"><span style="display: inline-block; position: relative; text-indent: -18pt;">3.</span>Mencari bantuan dari orang lain</div>
<p style="text-align: left; margin-bottom: 0; padding-bottom: 0; line-height: 1.3; margin-left: 36pt;">Karena desolasi membuat orang tidak obyektif, kita perlu orang lain untuk membantu kita lebih jernih dalam melihat persoalan. Kita bisa mencari pembimbing rohani, teman, atau orang yang kita anggap bijaksana.</p>
</li>
<li></li>
<li style="margin: 0;">
<div style="margin-bottom: 0; padding-bottom: 0; line-height: 1.3; margin-left: 36pt;"><span style="display: inline-block; position: relative; text-indent: -18pt;">4.</span>Mencermati persoalan psikologis, moral, dan pengaturan teknis</div>
<p style="text-align: left; margin-bottom: 0; padding-bottom: 0; line-height: 1.3; margin-left: 36pt;">Desolasi tidak berasal dari Tuhan. Desolasi juga tidak selalu disebabkan oleh dosa. Desolasi bisa juga muncul karena persoalan psikologis seperti luka batin, moral seperti tidak jujur dalam keuangan, atau pengaturan teknis seperti kurang tidur sehingga lelah fisik.</p>
</li>
<li></li>
<li style="margin: 0;">
<div style="margin-bottom: 0; padding-bottom: 0; line-height: 1.3; margin-left: 36pt;"><span style="display: inline-block; position: relative; text-indent: -18pt;">5.</span>Waspada terhadap ‘malaikat palsu’</div>
<p style="text-align: left; margin-bottom: 0; padding-bottom: 0; line-height: 1.3; margin-left: 36pt;">Kita perlu berhati-hati terhadap hal-hal yang tampak baik atau suci tetapi sebenarnya mengalihkan tujuan utama kita. Misalnya, saat masa ujian seharusnya kita menggunakan waktu untuk belajar, tetapi muncul keinginan untuk berpantang dan berpuasa supaya Tuhan melancarkan ujian. Keinginan baik ini menjadi gangguan belajar. Orang lapar akan sulit konsentrasi.</p>
</li>
<li></li>
<li style="margin: 0;">
<div style="margin-bottom: 0; padding-bottom: 0; line-height: 1.3; margin-left: 36pt;"><span style="display: inline-block; position: relative; text-indent: -18pt;">6.</span>Tetap tekun</div>
<p style="text-align: left; margin-bottom: 0; padding-bottom: 0; line-height: 1.3; margin-left: 36pt;">Dalam desolasi, kita akan tergoda untuk menjadi malas mengerjakan hal-hal rutin. Kita menjadi malas belajar, enggan ke gereja, dan kurang semangat dalam bekerja. Dalam situasi itu, kita perlu tetap tekun mengerjakan tugas dan tanggung jawab kita, betapa pun rasanya tidak nyaman. Jika kita melalaikan tugas dan tanggung jawab kita, kita hanya akan menambah masalah.</p>
</li>
<li></li>
<li style="margin: 0;">
<div style="margin-bottom: 0; padding-bottom: 0; line-height: 1.3; margin-left: 36pt;"><span style="display: inline-block; position: relative; text-indent: -18pt;">7.</span>Lembut, sabar, dan percaya pada diri sendiri</div>
<p style="text-align: left; margin-bottom: 0; padding-bottom: 0; line-height: 1.3; margin-left: 36pt;">Seringkali dalam desolasi, kita menyalahkan diri sendiri. Tak jarang pula kita menyakiti diri sendiri. Dalam hal ini, kita perlu lembut terhadap diri kita. Menyalahkan diri tidak akan mengatasi persoalan. Kita perlu sabar. Kita perlu yakin bahwa hiburan akan datang. Kita juga perlu yakin bahwa kita mampu menghadapi segala ketidaknyamanan itu. Tuhan tidak akan mencobai melebihi kemampuan kita.</p>
</li>
<li></li>
<li style="margin: 0;">
<div style="margin-bottom: 0; padding-bottom: 0; line-height: 1.3; margin-left: 36pt;"><span style="display: inline-block; position: relative; text-indent: -18pt;">8.</span>Percaya bahwa Tuhan menjadikan desolasi ini sebagai sesuatu yang berharga</div>
<p style="text-align: left; margin-bottom: 8pt; padding-bottom: 0; line-height: 1.3; margin-left: 36pt;">Desolasi bukanlah situasi yang sia-sia. Desolasi menjadi tanda akan datangnya rahmat yang lebih besar dari Tuhan. Setidaknya, dengan berani menghadapi desolasi, kita akan memperoleh rahmat pertobatan, daya tahan, kesabaran, kebijaksanaan, dan kerendahan hati.</p>
</li>
</ol>
<p style="margin-top: 0pt; padding-top: 0; margin-bottom: 8pt; padding-bottom: 0; line-height: 1.3;"><span style="display: inline-block;"><span style="display: none;">.</span></span></p>
<p style="margin-top: 0pt; padding-top: 0; margin-bottom: 8pt; padding-bottom: 0; line-height: 1.3;">Sumber: Mark E. Thibodeaux, SJ, <em>God’s Voice Within, </em>Chicago: Loyola Press, 2010, hlm. 61-104.</p>
<p>Win SJ</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://parokikotabaru.org/cara-menanggapi-desolasi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Karakter Desolasi</title>
		<link>https://parokikotabaru.org/karakter-desolasi/</link>
					<comments>https://parokikotabaru.org/karakter-desolasi/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Komsos Kotabaru]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 08 Feb 2020 05:45:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ignatian]]></category>
		<category><![CDATA[Spiritualitas]]></category>
		<category><![CDATA[desolasi]]></category>
		<category><![CDATA[spiritulitas ignasian]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://parokikotabaru.org/?p=20901</guid>

					<description><![CDATA[Secara umum, kita mengalami desolasi ketika kehilangan iman, harapan, dan kasih, jauh dari Tuhan, serta mengalami campuran dari gelisah, tertekan, bosan, loyo, takut, khawatir, dan tertutup. Berikut ini adalah karakter [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Secara umum, kita mengalami desolasi ketika kehilangan iman, harapan, dan kasih, jauh dari Tuhan, serta mengalami campuran dari gelisah, tertekan, bosan, loyo, takut, khawatir, dan tertutup. Berikut ini adalah karakter dari desolasi:</p>
<ol>
<li>Lemahnya iman, harapan, dan kasih</li>
</ol>
<p>Kita mengalami desolasi ketika diri kita dipenuhi oleh kekhawatiran yang tidak masuk akal, kebingungan, kenikmatan semu, atau ketidakjelasan tujuan hidup. Dalam situasi itu biasanya kita kurang percaya pada penyertaan Tuhan (lemah dalam iman), mudah putus asa (lemah dalam harapan), dan kurang memperlakukan diri dan orang lain dengan baik seperti marah, cuek, atau menyakiti (lemah dalam kasih). Maka kita perlu mengecek apakah pikiran, perasaan, tindakan, atau keinginan-keinginan kita itu mengarahkan pada berkembangnya iman, harapan, dan kasih atau tidak. Jika tidak, kita berada dalam desolasi.</p>
<ol start="2">
<li>Merasa jauh dari Tuhan</li>
</ol>
<p>Kita mengalami desolasi juga ketika kita merasa sendiri, merasa ditinggalkan oleh Tuhan. Ketika kita berada dalam masalah, kadang kita tidak bisa merasakan Tuhan yang hadir dan membantu meskipun Tuhan tetap menyertai kita. Doa kita lalu terasa kering, formalitas, dan menjenuhkan.</p>
<ol start="3">
<li>Penuh dengan keresahan dan kegelisahan</li>
</ol>
<p>Dalam situasi ini, hati kita tidak tenang. Rasa takut, marah, malas, dan lainnya akan mengganggu kita. Jika perasaan-perasaan itu membuat kita pesimis dalam hidup ini, kita berada dalam desolasi. Perasaan-perasaan negatif ini sebenarnya sesuatu yang manusiawi. Godaan dan cobaan selalu akan ada dalam hidup kita. Yang penting adalah sikap kita terhadap perasaan negatif tersebut. Kita bisa mengendalikan sikap kita terhadap perasaan itu.</p>
<ol start="4">
<li>Mengalami kebingungan</li>
</ol>
<p>Merasa bingung adalah hal yang biasa karena banyak hal yang tidak pasti dalam hidup ini. Kebingungan menjadi desolasi ketika kita menjadi sedih berlebihan atas kebingungan tersebut. Dalam situasi ini, orang kehilangan arah atau tujuan hidupnya. Maka orang tersebut perlu melihat kembali cita-cita atau mimpi yang ingin dicapainya supaya bisa lepas dari rimba kebingungan.</p>
<ol start="5">
<li>Penuh kebosanan dan kelesuan</li>
</ol>
<p>Benci bukanlah lawan dari cinta. Lawan dari cinta adalah ketidakpedulian. Orang yang bosan atau lesu adalah orang yang sudah tidak peduli lagi dengan macam-macam hal. Orang ini berada dalam desolasi yang akan menghambatnya untuk berkembang karena tidak ada semangat atau kehendak untuk menjadi lebih baik dalam dirinya.</p>
<ol start="6">
<li>Penuh ketakutan dan kekhawatiran</li>
</ol>
<p>Dalam Injil, banyak nasihat untuk tidak takut melakukan kehendak Allah. Rupayanya ketakutan adalah halangan terbesar bagi umat beriman dalam melaksanakan kehendak Tuhan. Meskipun rasa takut dan khawatir bisa menjadi motivasi untuk bertindak, tetapi rasa itu membuat kita tidak fokus pada Tuhan. Ketika takut, kita akan fokus pada rasa takut itu sendiri. Dan rasa takut itu membuat kita ada dalam desolasi.</p>
<ol start="7">
<li>Penuh kerahasiaan</li>
</ol>
<p>Dalam desolasi kita akan digoda untuk menyembunyikan segala persoalan kita. Kita jadi tidak percaya pada orang lain, malu untuk mengakui, atau merasa tidak punya waktu untuk bercerita pada orang yang sebenarnya bisa membantu kita.</p>
<ol start="8">
<li>Konsolasi semu</li>
</ol>
<p>Konsolasi semu adalah perasaan, pikiran, dan motivasi yang tampak bagus dan suci awalnya, tetapi akhirnya tidak membawa tindakan yang dikehendaki Tuhan. Misalnya, saat musim ujian, kita malah banyak berdoa dari pada belajar. Berdoa adalah hal yang baik tetapi ketika dilakukan lebih banyak saat ujian menjadi kurang tepat. Atau orang tua menyayangi anaknya dengan menuruti keinginan anaknya itu sehingga sang anak tidak bisa hidup mandiri.</p>
<ol start="9">
<li>Kombinasi</li>
</ol>
<p>Karakter-karakter di atas bisa saling bergabung. Misalnya, kita bisa mengalami desolasi penuh ketakutan dan kekhawatiran sehingga mengalami kebingungan dan tidak ingin menceritakan kepada orang lain karena takut ditertawakan.</p>
<p>Sumber: Mark E. Thibodeaux, SJ, <em>God’s Voice Within, </em>Chicago: Loyola Press, 2010, hlm. 15-42.</p>
<p>Win SJ</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://parokikotabaru.org/karakter-desolasi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Apa Itu Roh Baik dan Roh Jahat?</title>
		<link>https://parokikotabaru.org/apa-itu-roh-baik-roh-jahat/</link>
					<comments>https://parokikotabaru.org/apa-itu-roh-baik-roh-jahat/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Komsos Kotabaru]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 18 Dec 2019 14:10:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ignatian]]></category>
		<category><![CDATA[Spiritualitas]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://parokikotabaru.org/?p=20735</guid>

					<description><![CDATA[Santo Ignatius Loyola menggunakan istilah roh baik dan roh jahat untuk menggambarkan dorongan-dorongan yang muncul dalam dirinya. Pada zaman hidupnya, belum ada istilah psikologi untuk melukiskan dorongan-dorongan tersebut. Santo Ignatius [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify; margin-top: 0pt; padding-top: 0; margin-bottom: 8pt; padding-bottom: 0; line-height: 1.3;">Santo Ignatius Loyola menggunakan istilah roh baik dan roh jahat untuk menggambarkan dorongan-dorongan yang muncul dalam dirinya. Pada zaman hidupnya, belum ada istilah psikologi untuk melukiskan dorongan-dorongan tersebut. Santo Ignatius pun menggunakan bahasa spiritualitas dan mistisisme. Baginya, setiap pikiran, perasaan, dan tindakan manusia menggerakkannya untuk menjauhi atau mendekati Tuhan (Mark E. Thibodeaux, SJ, <em>God’s Voice Within, </em>9).</p>
<p style="text-align: justify; margin-top: 0pt; padding-top: 0; margin-bottom: 8pt; padding-bottom: 0; line-height: 1.3;">Santo Ignatius menggunakan istilah roh baik dan roh jahat semenjak ia menyadari adanya dua dorongan dalam dirinya. Pada waktu itu, Santo Ignatius adalah seorang tentara yang kakinya terluka oleh bola meriam dalam peperangan untuk mempertahankan benteng Pamplona dari serangan musuh. Dalam masa penyembuhannya di puri Loyola, ia tidak mempunyai buku untuk dibaca selain kisah para santo dan hidup Kristus. Ketika ia membayangkan hal-hal suci seperti yang dilakukan para santo, ia merasakan kegembiraan. Ketika ia membayangkan hal-hal heroik sebagai tentara, awalnya ia merasa senang tetapi kemudian kering dan tidak bahagia. Pengalaman ini membuat Ignatius menyadari dua gerak roh. Satu roh membuatnya bahagia dan satu lagi membuatnya kering dan tidak bahagia.</p>
<p style="text-align: justify; margin-top: 0pt; padding-top: 0; margin-bottom: 8pt; padding-bottom: 0; line-height: 1.3;">Mark E. Thibodeaux, SJ memahami roh jahat dalam bahasa Ignatian tidak hanya mengacu pada setan, tetapi termasuk juga trauma atas pengalaman pahit, beban psikologis, kelemahan emosional, dan lain-lain. Ketika kita berani melawan orang tua, bisa jadi kita digerakkan oleh setan atau oleh luka batin di masa kecil kita. Roh jahat adalah apa pun yang menarik seseorang untuk menjauh dari Tuhan dan dari rencana kasih Tuhan untuk dunia. Begitu juga dengan roh jahat dalam bahasa Ignatian tidak hanya mengacu pada Roh Kudus, tetapi termasuk juga hidup yang bahagia, pengalaman-pengalaman positif, kekuatan psikologis, dan hal baik lainnya (Mark E. Thibodeaux, SJ, <em>God’s Voice Within, </em>12).</p>
<p style="text-align: justify; margin-top: 0pt; padding-top: 0; margin-bottom: 8pt; padding-bottom: 0; line-height: 1.3;">Secara ringkas, roh jahat merupakan dorongan batin untuk menjauh dari rencana Tuhan dan dari iman, harapan, dan kasih. Orang yang berada dalam pengaruh roh jahat akan mengalami desolasi. Desolasi merupakan situasi berat, kesepian, gelap, kehilangan harapan, kasih, dan iman. Roh baik merupakan dorongan batin untuk mendekat pada rencana Tuhan dan pada iman, harapan, dan kasih. orang yang berada dalam pengaruh roh baik akan mengalami konsolasi. Konsolasi merupakan situasi gembira, penuh harapan, kasih, dan kuat dalam iman.</p>
<p style="text-align: justify; margin-top: 0pt; padding-top: 0; margin-bottom: 8pt; padding-bottom: 0; line-height: 1.3;"><span style="display: inline-block;"><span style="display: none;">.</span></span></p>
<p style="text-align: justify; margin-top: 0pt; padding-top: 0; margin-bottom: 8pt; padding-bottom: 0; line-height: 1.3;">Sumber: Mark E. Thibodeaux, SJ, <em>God’s Voice Within, </em>Chicago: Loyola Press, 2010.</p>
<p style="text-align: justify; margin-top: 0pt; padding-top: 0; margin-bottom: 8pt; padding-bottom: 0; line-height: 1.3;"><span style="display: inline-block;"><span style="display: none;">.</span></span></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://parokikotabaru.org/apa-itu-roh-baik-roh-jahat/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Apa Itu Diskresi Ignatian?</title>
		<link>https://parokikotabaru.org/apa-itu-diskresi-ignatian/</link>
					<comments>https://parokikotabaru.org/apa-itu-diskresi-ignatian/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Komsos Kotabaru]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 18 Dec 2019 13:59:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ignatian]]></category>
		<category><![CDATA[Spiritualitas]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://parokikotabaru.org/?p=20729</guid>

					<description><![CDATA[“Apa yang sebaiknya aku lakukan?” Pertanyaan di atas sering kita tanyakan di dalam batin kita. Pertanyaan itu menunjukkan situasi kita di hadapan pilihan-pilihan. Dan kita ingin memilih yang lebih baik. [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="margin-top: 0pt; padding-top: 0; margin-bottom: 8pt; padding-bottom: 0; line-height: 1.3;">“Apa yang sebaiknya aku lakukan?”</p>
<p style="text-align: justify; margin-top: 0pt; padding-top: 0; margin-bottom: 8pt; padding-bottom: 0; line-height: 1.3;">Pertanyaan di atas sering kita tanyakan di dalam batin kita. Pertanyaan itu menunjukkan situasi kita di hadapan pilihan-pilihan. Dan kita ingin memilih yang lebih baik. Namun seringkali kita bingung dan takut salah mengambil keputusan. Kita takut mengecewakan diri sendiri dan orang lain. Belum lagi, keputusan-keputusan yang kita ambil menentukan identitas diri kita. Orang akan menganggap kita sebagai pemalas jika kita sering bangun siang. Orang akan menganggap kita suci jika kita rajin beribadah dan beramal.</p>
<p style="text-align: justify; margin-top: 0pt; padding-top: 0; margin-bottom: 8pt; padding-bottom: 0; line-height: 1.3;">Di lubuk hati yang terdalam, kita ingin mengetahui kehendak Tuhan atas hidup kita. Seringkali kita bertanya: apakah pilihan yang kuambil ini pilihan yang dikehendaki Tuhan? Karena tidak tahu bagaimana cara mengetahuinya, kita pun terombang-ambing dalam keraguan. Dalam situasi ini, diskresi Ignatian akan sangat membantu kita untuk mengambil keputusan secara lebih tepat.</p>
<p style="text-align: justify; margin-top: 0pt; padding-top: 0; margin-bottom: 8pt; padding-bottom: 0; line-height: 1.3;">Apa itu diskresi Ignatian? Diskresi Ignatian adalah pengalaman rohani St. Ignatius Loyola dalam membedakan dorongan dari roh baik dan roh jahat. St. Ignatius tidak memberikan langkah-langkah pengambilan keputusan yang sistematik karena ia menyadari bahwa persoalan manusia terlalu kompleks sehingga tidak bisa diberi satu langkah diskresi yang bisa untuk semua orang. Karena itu, St. Ignatius lebih ingin membentuk pribadi yang peka terhadap dorongan-dorongan dalam dirinya sehingga bisa memilih yang dikehendaki Tuhan. Dengan mengetahui ciri-ciri roh baik dan roh jahat, seseorang bisa memilih dorongan dari roh baik. Dengan perkataan lain, ketika seseorang mengenali motivasi yang menggerakkannya, pengambilan keputusan akan lebih mudah karena dia tinggal memilih pilihan yang dari Tuhan (Mark E. Thibodeaux, SJ, <em>God’s Voice Within, </em>6).</p>
<p style="text-align: justify; margin-top: 0pt; padding-top: 0; margin-bottom: 8pt; padding-bottom: 0; line-height: 1.3;">Diskresi Ignatian bukanlah tentang apa yang harus kulakukan, tetapi tentang menjadi orang seperti apa. Diskresi Ignatian mengarahkan kita untuk menjadi pribadi yang mengikuti dorongan-dorongan yang membawa pada Tuhan. Metode diskresi Ignatian mengajari kita bagaimana mengembangkan kepekaan rohani sehingga bisa mengenali suara Tuhan (Mark E. Thibodeaux, SJ, <em>God’s Voice Within, </em>7). Untuk itu, langkah pertama yang perlu kita lakukan adalah mengenali karakter dari roh baik dan roh jahat. Langkah kedua adalah mendalami ajaran Ignatius tentang bagaimana menanggapi jika kita berada dalam desolasi (kesepian rohani) dan konsolasi (hiburan rohani). Langkah ketiga adalah mempelajari cara menentukan kehendak Tuhan lewat sumber-sumber dorongan yang menggerakkan kita mendekat atau menjauh dari Tuhan.</p>
<p style="text-align: justify; margin-top: 0pt; padding-top: 0; margin-bottom: 8pt; padding-bottom: 0; line-height: 1.3;"><span style="display: inline-block;"><span style="display: none;">.</span></span></p>
<p style="text-align: justify; margin-top: 0pt; padding-top: 0; margin-bottom: 8pt; padding-bottom: 0; line-height: 1.3;">Sumber: Mark E. Thibodeaux, SJ, <em>God’s Voice Within, </em>Chicago: Loyola Press, 2010.<span style="display: inline-block;"><span style="display: none;">.</span></span></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://parokikotabaru.org/apa-itu-diskresi-ignatian/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Examen Conscientiae</title>
		<link>https://parokikotabaru.org/examen-conscientiae/</link>
					<comments>https://parokikotabaru.org/examen-conscientiae/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Komsos Kotabaru]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 14 Dec 2019 04:38:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ignatian]]></category>
		<category><![CDATA[Spiritualitas]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://parokikotabaru.org/?p=20664</guid>

					<description><![CDATA[Anda merasa jauh dari Tuhan dan ingin kembali dekat dengan-Nya? Examen Conscientiae akan membantu Anda. Salah satu latihan rohani yang diajarkan oleh St. Ignatius Loyola adalah examen conscientiae atau pemeriksaan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Anda merasa jauh dari Tuhan dan
ingin kembali dekat dengan-Nya? Examen Conscientiae akan membantu Anda. </p>



<p>Salah satu
latihan rohani yang diajarkan oleh St. Ignatius Loyola adalah examen
conscientiae atau pemeriksaan batin. Examen Conscientiae merupakan pengamatan
terhadap dorongan-dorongan dalam batin kita. &nbsp;St. Ignatius menyadari bahwa hati kita menjadi
arena berbagai dorongan yang mengatur sikap dan tindakan kita (LR 32). Di awal
masa pertobatannya, St. Ignatius merasakan dorongan yang membuatnya murung
karena membayangkan hal-hal duniawi dan dorongan yang membuatnya gembira karena
membayangkan hal-hal suci (autobiografi no.8). Dorongan pertama berasal dari
roh jahat dan dorongan yang kedua dari roh baik. </p>



<p>Pemeriksaan batin bertujuan untuk melatih kepekaan kita terhadap dorongan-dorongan dari roh baik atau pun dari roh jahat. Harapannya, ketika kita mengetahui dorongon roh baik kita akan mengikutinya dan menjauhinya jika dorongan itu dari roh jahat. Karena itu, dibutuhkan kepekaan terhadap dorongan-dorongan atau gerakan-gerakan dalam batin kita. Untuk menjadi peka, dibutuhkan latihan. Berikut ini adalah langkah-langkah dalam melakukan pemeriksaan batin.</p>



<p>1. Syukur</p>



<p>Langkah pertama adalah mensyukuri anugerah Tuhan. Kita diajak untuk melihat hal-hal baik sudah kita terima hari ini. Syukur menjadi langkah pertama karena bagi Ignatius, Allah itu sangat murah hati memberi rahmat sampai-sampai manusia tidak mampu menerimanya. Allah senantiasa memberikan rahmat-Nya. Sebagai penerima rahmat, sudah selayaknya kita mengucap syukur. </p>



<p>2. Mohon rahmat</p>



<p>Pada langkah kedua ini, kita diajak untuk memohon Roh Kudus menerangi pengalaman-pengalaman kita sehingga bisa menemukan campur tangan Tuhan dalam hidup ini. Dengan permohonan ini, kita berharap Tuhan akan membantu kita sebab tanpa pokok anggur, sebagai rantingnya, kita tidak dapat berbuat apa-apa (Yoh 15:5). </p>



<p>3. Melihat kembali pengalaman</p>



<p>Langkah ketiga adalah mengingat kembali peristiwa-peristiwa yang sudah kita jalani. St. Ignatius mengajak kita untuk melihat dari jam ke jam, dari waktu ke waktu pengalaman-pengalaman kita. Kita diminta untuk mencermati gerak-gerak batin dari setiap waktu itu. Tujuannya adalah supaya kita dapat mengetahui apa yang kita alami, apa yang sedang kita rasakan, dan tanggapan kita terhadap situasi yang kita alami atau rasakan sehingga menjadi lebih peka terhadap situasi diri.</p>



<p>4. Memohon Ampun </p>



<p>Langkah keempat adalah memohon pengampunan kepada Tuhan atas kesalahan-kesalahan kita (LR 43). Dalam suatu relasi, jika kita melakukan kesalahan tentu kita akan memohon maaf supaya mendapatkan pengampunan. Pengampunan membuat relasi yang terluka itu menjadi pulih. Relasi kita dengan Tuhan yang mungkin juga terluka karena kita tidak menaati-Nya perlu dipulihkan dengan pengampunan-Nya.  Maka kita pun memohon ampun atas kesalahan atau kelalaian kita hari ini.</p>



<p>5. Membangun niat</p>



<p>Dalam langkah
kelima ini kita diajak untuk membiarkan masa lalu menerangi masa depan. Maksudnya,
kita belajar dari pengalaman masa lalu untuk membangun niat yang lebih baik
lagi di masa depan. Maka dalam tahap ini, kita menentukan niat-niat yang akan
kita lakukan demi perkembangan hidup yang lebih baik.</p>



<p>Pemeriksaan batin bisa dilakukan sehari dua kali, yaitu pada siang hari dan malam hari atau pada saat yang tepat lainnya. Marilah kita mencari waktu barang 5-15 menit untuk berhenti sejenak dari aktivitas dan melakukan pemeriksaan batin. Tuhan hadir dalam hidup kita. AMDG.</p>



<p>Win SJ</p>



<p>Sumber: Timothy M. Gallagher,
OMV, <em>The Examen Prayer: Ignatian Wisdom for Our Lives Today, </em>New York:
The Crossroad Publishing Company, 2006.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://parokikotabaru.org/examen-conscientiae/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Santo Ignatius Loyola</title>
		<link>https://parokikotabaru.org/santo-ignatius-loyola/</link>
					<comments>https://parokikotabaru.org/santo-ignatius-loyola/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[kobar_superadmin]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 07 Nov 2019 03:26:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ignatian]]></category>
		<category><![CDATA[Spiritualitas]]></category>
		<category><![CDATA[ignatius loyola]]></category>
		<category><![CDATA[kisah]]></category>
		<category><![CDATA[ordo]]></category>
		<category><![CDATA[riwayat hidup]]></category>
		<category><![CDATA[santa]]></category>
		<category><![CDATA[santo]]></category>
		<category><![CDATA[serikat yesus]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://parokikotabaru.org/?p=20468</guid>

					<description><![CDATA[Santo Ignatius Loyola adalah pendiri ordo Serikat Yesus. Ia lahir di daerah Basque, Guipuzcoa, Spanyol Utara pada tahun 1491. Nama kecilnya adalah Íñigo Lopez de Loyola. Ia adalah putra bungsu [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-weight: 400;">Santo Ignatius Loyola adalah pendiri ordo Serikat Yesus. Ia lahir di daerah Basque, Guipuzcoa, Spanyol Utara pada tahun 1491. Nama kecilnya adalah Íñigo Lopez de Loyola. Ia adalah putra bungsu keluarga bangsawan. Putra yang lahir dari Don Beltran de Onazy Loyola dan Maria Sanchez de Licona ini sejak kecil hidup mewah dalam lingkungan istana. Seperti anak-anak pada zamannya, Íñigo sering membayangkan diri sebagai kesatria yang berbudaya, saleh, dikagumi kaum hawa, dan ahli dalam perang. Berkat koneksi keluarga, Íñigo bisa membantu di kastil Kerajaan. Ia pun belajar berkuda, berkelahi, berjudi, dansa, dan tampil memesona.&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pada tahun 1517, Íñigo menjadi tentara Kerajaan Spanyol. Empat tahun kemudian, Íñigo ikut mempertahankan benteng Pamplona dari serangan tentara Perancis. Sayangnya, tentara Perancis berhasil merebut benteng dan Ignatius pun terluka karena terkena peluru meriam. Karena lukanya itu, Íñigo menjalani pemulihan di puri Loyola.&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pengalaman terluka ini ternyata menjadi jalan Tuhan untuk membuat Íñigo mengalami pertobatan hidup. Pertobatan itu dimulai dari keinginannya untuk mengusir rasa bosan perawatan dengan membaca buku-buku yang ada. Ia ingin membaca buku-buku kepahlawanan, tetapi yang ada hanyalah buku tentang Kehidupan Kristus dan Para Orang Kudus. Ketika membaca buku-buku itu, Íñigo merasakan kedamaian dan panggilan Tuhan untuk mengabdi-Nya. Ketika membayangkan menjadi kesatria yang gagah berani dan memenangkan hati seorang putri, meskipun awalnya menyenangkan, Íñigo merasakan hati yang kering dan hampa. Namun, ketika ia membayangkan menjadi pelayan Tuhan dan sesama, ia menemukan kegembiraan mendalam. Ia pun berniat untuk melampaui pahlawan-pahlawan suci lainnya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Íñigo ingin menguji keinginan-keinginan sucinya itu dengan berziarah ke Yerusalem. Ia&nbsp; meninggalkan kenyamanan puri Loyola dengan menjadi pengembara. Ia mengemis, berkhotbah, memelihara orang sakit dan orang miskin. Pada tahun 1522, Íñigo pergi ke biara Benediktin Montserrat untuk berdoa di sana. Ia berdoa untuk memohon ampun atas semua dosa masa lalunya. Sebagai simbol pertobatan, ia meletakkan pedangnya di bawah kaki altar kapel biara itu pada tanggal 24 Maret 1522. Semua miliknya pun diberikan kepada orang-orang miskin. Ia hanya mengenakan pakaian peziarah. Dengan pakaian itu, ia melanjutkan perjalanan dari Montserrat ke Manresa.&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di Manresa, Íñigo menghabiskan waktunya untuk berdoa dan melayani di rumah sakit. Dalam refleksinya di kemudian hari, Íñigo menyadari bahwa di Manresa ini Tuhan berkarya di dalam dirinya seperti seorang guru kepada muridnya. Tuhan mengajarinya cara berdoa dan hidup suci. Íñigo dituntun untuk mencermati gerak-gerak batinnya, seperti rasa tertarik, perasaan, pikiran, dan keinginan-keinginan yang menuntunnya untuk dekat dengan Yesus dan hal-hal yang mengganggu perkembangan rohaninya. Di tepi Sungai Cardoner, Íñigo memperoleh rahmat yang memampukannya untuk menemukan Tuhan dalam segala hal.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Íñigo mulai mencatat inspirasi-inspirasi rohani yang ia temukan dari pengalamannya itu. Ia pun gemar bercakap-cakap dengan orang-orang tentang hidup rohani dan mencatat buah-buah dari percakapan tersebut. Catatan-catatan inilah yang kemudian menjadi buku Latihan Rohani St. Ignatius Loyola.&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun, tidaklah lazim seorang awam yang tidak berpendidikan seperti Íñigo mengajar agama dan spiritualitas. Maka pada tahun 1524, Íñigo yakin bahwa tugas pelayanan bagi Tuhan dan sesama membutuhkan pendidikan yang memadai. Íñigo pun menempuh pendidikan selama 10 tahun untuk memperkaya dirinya dengan berbagai ilmu. Pendidikan yang ia tempuh itu merupakan persiapan untuk menjadi imam. Ia belajar di Alcala de Henares (1526-1527), Salamanca (1527-1528), dan Paris (1528-1535). Di Alcala dan Salamanca, Íñigo belajar bahasa Latin, bahasa universal Gereja. Di Paris Íñigo belajar filsafat dan teologi. Di Paris inilah, Íñigo dikenal sebagai Ignatius, nama Latin dari namanya. Di Paris ini pula Ignatius memperolah sahabat-sahabat yang nantinya akan menjadi para Jesuit pertama. Para sahabat itu adalah Petrus Faber, Fransiskus Xaverius, Diego Laynez, Simon Rodriquez, Alonso Salmeron, dan Nikolas Bobadilla.&nbsp; Mereka mengucapkan kaul kemurnian, ketaatan, dan kemiskinan di kapel Biara Benediktin di Montmartre. Mereka berjanji akan menjadi pewarta Injil di Tanah Suci setelah ditahbiskan. Tetapi jika misi ke Tanah Suci tidak memungkinkan, mereka akan mengabdikan diri pada Bapa Suci. Ignasius dan para sahabatnya yang belum imam ditahbiskan imam pada tanggal 24 Juni 1537.&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ternyata misi ke Tanah Suci mengalami kendala, yaitu situasi peperangan sehingga mereka mengalihkan misi mereka ke Roma. Di La Storta, Ignatius memperoleh penglihatan, yaitu Allah Bapa bersama dengan Yesus yang memanggul salib. Ignatius pun merasakan panggilan kuat dan jelas untuk bersama Yesus memanggul salib. Penglihatan itu makin meneguhkan Ignatius dan para sahabatnya untuk mengabdikan diri pada Bapa Suci. Mereka menawarkan diri kepada Paus Paulus III untuk mengerjakan tugas dari Bapa Suci, apa saja dan kapan saja. Pada tanggal 27 September 1540, Paus Paulus III merestui keberadaan kelompok Ignatius yang disebut dengan nama Serikat Yesus. Ignatius pun menjadi pemimpin pertama ordo Serikat Yesus. Nama Serikat Yesus ini terinspirasi dari pengalaman visiun di La Storta. Mereka berani menggunakan nama Yesus karena bagi mereka arah dan tujuan hidup ini adalah untuk mengenal, mencintai, dan melayani Yesus Kristus. Mereka ingin menjadi sahabat-sahabat Yesus yang memanggul salib-Nya.&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kemudian anggota ordo Serikat Yesus ini dikenal dengan nama Jesuit. Para Jesuit berkaul untuk siap pergi ke mana pun Gereja membutuhkan dan ke mana pun mereka bisa menyelamatkan jiwa-jiwa. Sejak didirikan secara resmi tahun 1540, Paus mulai mengirim para Jesuit untuk misi-misi penting di seluruh dunia. Misalnya, Fransiskus Xaverius dikirim ke India. Petrus Faber dikirim ke Konsili Trente. Para Jesuit pun membuka sekolah-sekolah di Eropa dan seberang lautan untuk memenuhi kebutuhan Gereja, yaitu umat dan klerus yang terdidik dengan baik. Mereka melakukan semua misi itu demi kemuliaan Allah yang lebih besar (</span><i><span style="font-weight: 400;">Ad Maiorem Dei Gloriam</span></i><span style="font-weight: 400;">).&nbsp;&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Selama 15 tahun memimpin Serikat Yesus, Ignatius memusatkan perhatiannya pada pembinaan semangat religius ordonya. Maka tidak mengherankan jika Ignatius diangkat sebagai pelindung semua kegiatan rohani oleh Paus Pius XI pada tahun 1922. Ignatius wafat pada tanggal 31 Juli 1556. Ignatius dinyatakan sebagai beato oleh Paus Paulus V pada tanggal 3 Desember 1609 dan oleh Paus Gregorius XV dinyatakan sebagai santo pada tanggal 12 Maret 1622.&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Rm. Agustinus Winaryanta SJ</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sumber:</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Mgr. Nicolaas Martinus Schneiders, CICM, </span><i><span style="font-weight: 400;">Orang Kudus Sepanjang Tahun, </span></i><span style="font-weight: 400;">Jakarta: OBOR, 2004, hlm. 372-374.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kevin O’Brien, SJ, </span><i><span style="font-weight: 400;">The Ignatian Adventure, </span></i><span style="font-weight: 400;">Chicago: Loyola Press, 2011, hlm. 5-11.</span></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://parokikotabaru.org/santo-ignatius-loyola/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
