Blog

Cara Menanggapi Desolasi

Cara Menanggapi Desolasi

Desolasi merupakan keadaan yang tidak menyenangkan. Bagaimana kita menanggapinya? Berikut ini adalah tindakan dan sikap yang perlu kita ambil saat dalam desolasi:

  1. 1.Menamai desolasi tersebut

    Menamai berarti menguasai. Dalam Kitab Kejadian, Adam menamai hewan-hewan sebagai tanda bahwa ia menguasai hewan-hewan tersebut. Secara psikologis, memberi nama pada suatu peristiwa dapat melegakan kita. Maka kita perlu mengakui dan menamai desolasi yang kita alami. Misalnya: “Aku sedang mengalami kelesuan dan kemalasan dalam studi, hidup rohani, dan relasi” atau “Aku sedang merasa Tuhan itu jauh dari hidupku”

  2. 2.Tidak membuat/merubah keputusan penting

    Dalam desolasi, orang kehilangan obyektivitasnya sehingga tidak jernih dalam melihat suatu persoalan. Biasanya, kita akan tergoda untuk merasa bahwa ketidaknyamanan ini dikarenakan keputusan sebelumnya salah. Karena itu, hendaknya kita tidak mengubah atau membuat keputusan penting yang baru. Kita perlu menunggu sampai batin kita tenang.

  3. 3.Mencari bantuan dari orang lain

    Karena desolasi membuat orang tidak obyektif, kita perlu orang lain untuk membantu kita lebih jernih dalam melihat persoalan. Kita bisa mencari pembimbing rohani, teman, atau orang yang kita anggap bijaksana.

  4. 4.Mencermati persoalan psikologis, moral, dan pengaturan teknis

    Desolasi tidak berasal dari Tuhan. Desolasi juga tidak selalu disebabkan oleh dosa. Desolasi bisa juga muncul karena persoalan psikologis seperti luka batin, moral seperti tidak jujur dalam keuangan, atau pengaturan teknis seperti kurang tidur sehingga lelah fisik.

  5. 5.Waspada terhadap ‘malaikat palsu’

    Kita perlu berhati-hati terhadap hal-hal yang tampak baik atau suci tetapi sebenarnya mengalihkan tujuan utama kita. Misalnya, saat masa ujian seharusnya kita menggunakan waktu untuk belajar, tetapi muncul keinginan untuk berpantang dan berpuasa supaya Tuhan melancarkan ujian. Keinginan baik ini menjadi gangguan belajar. Orang lapar akan sulit konsentrasi.

  6. 6.Tetap tekun

    Dalam desolasi, kita akan tergoda untuk menjadi malas mengerjakan hal-hal rutin. Kita menjadi malas belajar, enggan ke gereja, dan kurang semangat dalam bekerja. Dalam situasi itu, kita perlu tetap tekun mengerjakan tugas dan tanggung jawab kita, betapa pun rasanya tidak nyaman. Jika kita melalaikan tugas dan tanggung jawab kita, kita hanya akan menambah masalah.

  7. 7.Lembut, sabar, dan percaya pada diri sendiri

    Seringkali dalam desolasi, kita menyalahkan diri sendiri. Tak jarang pula kita menyakiti diri sendiri. Dalam hal ini, kita perlu lembut terhadap diri kita. Menyalahkan diri tidak akan mengatasi persoalan. Kita perlu sabar. Kita perlu yakin bahwa hiburan akan datang. Kita juga perlu yakin bahwa kita mampu menghadapi segala ketidaknyamanan itu. Tuhan tidak akan mencobai melebihi kemampuan kita.

  8. 8.Percaya bahwa Tuhan menjadikan desolasi ini sebagai sesuatu yang berharga

    Desolasi bukanlah situasi yang sia-sia. Desolasi menjadi tanda akan datangnya rahmat yang lebih besar dari Tuhan. Setidaknya, dengan berani menghadapi desolasi, kita akan memperoleh rahmat pertobatan, daya tahan, kesabaran, kebijaksanaan, dan kerendahan hati.

.

Sumber: Mark E. Thibodeaux, SJ, God’s Voice Within, Chicago: Loyola Press, 2010, hlm. 61-104.

Win SJ

Please follow and like us:
error0
Tweet 20
fb-share-icon20

Leave a comment