Blog

Examen Conscientiae

Examen Conscientiae

Anda merasa jauh dari Tuhan dan ingin kembali dekat dengan-Nya? Examen Conscientiae akan membantu Anda.

Salah satu latihan rohani yang diajarkan oleh St. Ignatius Loyola adalah examen conscientiae atau pemeriksaan batin. Examen Conscientiae merupakan pengamatan terhadap dorongan-dorongan dalam batin kita.  St. Ignatius menyadari bahwa hati kita menjadi arena berbagai dorongan yang mengatur sikap dan tindakan kita (LR 32). Di awal masa pertobatannya, St. Ignatius merasakan dorongan yang membuatnya murung karena membayangkan hal-hal duniawi dan dorongan yang membuatnya gembira karena membayangkan hal-hal suci (autobiografi no.8). Dorongan pertama berasal dari roh jahat dan dorongan yang kedua dari roh baik.

Pemeriksaan batin bertujuan untuk melatih kepekaan kita terhadap dorongan-dorongan dari roh baik atau pun dari roh jahat. Harapannya, ketika kita mengetahui dorongon roh baik kita akan mengikutinya dan menjauhinya jika dorongan itu dari roh jahat. Karena itu, dibutuhkan kepekaan terhadap dorongan-dorongan atau gerakan-gerakan dalam batin kita. Untuk menjadi peka, dibutuhkan latihan. Berikut ini adalah langkah-langkah dalam melakukan pemeriksaan batin.

1. Syukur

Langkah pertama adalah mensyukuri anugerah Tuhan. Kita diajak untuk melihat hal-hal baik sudah kita terima hari ini. Syukur menjadi langkah pertama karena bagi Ignatius, Allah itu sangat murah hati memberi rahmat sampai-sampai manusia tidak mampu menerimanya. Allah senantiasa memberikan rahmat-Nya. Sebagai penerima rahmat, sudah selayaknya kita mengucap syukur.

2. Mohon rahmat

Pada langkah kedua ini, kita diajak untuk memohon Roh Kudus menerangi pengalaman-pengalaman kita sehingga bisa menemukan campur tangan Tuhan dalam hidup ini. Dengan permohonan ini, kita berharap Tuhan akan membantu kita sebab tanpa pokok anggur, sebagai rantingnya, kita tidak dapat berbuat apa-apa (Yoh 15:5).

3. Melihat kembali pengalaman

Langkah ketiga adalah mengingat kembali peristiwa-peristiwa yang sudah kita jalani. St. Ignatius mengajak kita untuk melihat dari jam ke jam, dari waktu ke waktu pengalaman-pengalaman kita. Kita diminta untuk mencermati gerak-gerak batin dari setiap waktu itu. Tujuannya adalah supaya kita dapat mengetahui apa yang kita alami, apa yang sedang kita rasakan, dan tanggapan kita terhadap situasi yang kita alami atau rasakan sehingga menjadi lebih peka terhadap situasi diri.

4. Memohon Ampun

Langkah keempat adalah memohon pengampunan kepada Tuhan atas kesalahan-kesalahan kita (LR 43). Dalam suatu relasi, jika kita melakukan kesalahan tentu kita akan memohon maaf supaya mendapatkan pengampunan. Pengampunan membuat relasi yang terluka itu menjadi pulih. Relasi kita dengan Tuhan yang mungkin juga terluka karena kita tidak menaati-Nya perlu dipulihkan dengan pengampunan-Nya.  Maka kita pun memohon ampun atas kesalahan atau kelalaian kita hari ini.

5. Membangun niat

Dalam langkah kelima ini kita diajak untuk membiarkan masa lalu menerangi masa depan. Maksudnya, kita belajar dari pengalaman masa lalu untuk membangun niat yang lebih baik lagi di masa depan. Maka dalam tahap ini, kita menentukan niat-niat yang akan kita lakukan demi perkembangan hidup yang lebih baik.

Pemeriksaan batin bisa dilakukan sehari dua kali, yaitu pada siang hari dan malam hari atau pada saat yang tepat lainnya. Marilah kita mencari waktu barang 5-15 menit untuk berhenti sejenak dari aktivitas dan melakukan pemeriksaan batin. Tuhan hadir dalam hidup kita. AMDG.

Win SJ

Sumber: Timothy M. Gallagher, OMV, The Examen Prayer: Ignatian Wisdom for Our Lives Today, New York: The Crossroad Publishing Company, 2006.

Please follow and like us:
error0
Tweet 20
fb-share-icon20

Leave a comment