Blog

Renungan Adven II 2019

Renungan Adven II 2019

PERMENUNGAN MINGGU ADVEN KEDUA

Bacaan

Yes.11:1-10; Mzm.72; Rom.15:4-9; Mat.3:1-12.

Disposisi batin

Aku membayangkan diriku sedang berdiri dengan rendah hati di hadapan Tuhan yang mengasihiku.

Rahmat yang dimohon

Aku memohon rahmat keterbukaan hati terhadap dunia sekitarku, terutama kepada mereka yang menderita dan membutuhkan pertolongan.

Saran: UAP 2

Berjalan bersama orang miskin, tersingkir, teraniaya untuk mencapai rekonsiliasi dan keadilan.

Dalam bacaan pertama, Yesaya menggambarkan kualitas dari Yesus Kristus, sang Mesias. Jika kita merenungkannya, kita dapat memahami bahwa kualitas Mesias itu adalah juga rahmat-rahmat untuk hidup baru di dalam diri dan dunia kita. Kita dapat menerima semua kualitas, semua rahmat Roh Kudus itu dan memohon Roh Kudus untuk tinggal di dalam diri kita. Rahmat-rahmat tersebut berkaitan dengan relasi dengan yang lain. Maka kita bisa bertanya bagaimana sabda Tuhan ini bisa menuntun kita untuk menyegarkan komitmen dan relasi kita, terutama rahmat rekonsiliasi atas apa yang kita lakukan, katakan, atau abaikan. Barangkali kita kurang menghormati Roh Kudus dengan menolak berbuat kebaikan demi orang lain dan dunia ini.

Yesaya memberi kita gambaran masyarakat yang adil, setara, dan tidak menoleransi korupsi serta kejahatan, sebuah masyarakat yang menghendaki kedamaian. Hal ini bukanlah mimpi utopis, tetapi kenyataan Kristiani dalam genggaman harapan. Sebenarnya Kita mendoakannya setiap kali kita berdoa Bapa kami, ‘datanglah Kerajaan-Mu’ (UAP 2;3). Tetapi pewujudan harapan ini bergantung pula pada keputusan yang diambil kita, manusia. Kita bisa merubah tanaman hijau menjadi padang gurun dan laut yang berombak menjadi kolam kering. Sekarang, Tuhan mengajak kita untuk mengupayakan kesembuhan ekologis, sebuah visi atas ciptaan yang diperbarui, rumah kita bersama (UAP 4).

Dari bacaan kedua, Paulus mengajak kita untuk meneladan pribadi Kristus yang memuliakan Allah. Ia telah menerima, menghormati, dan melayani semua bangsa manusia. Maka kita pun diajak untuk memuliakan Allah lewat tindakan belas kasih kepada semua orang dan ciptaan. Kita perlu meninggalkan diri dan hidup untuk kebaikan orang lain dan untuk kebaikan bumi yang kita sebut rumah.

Injil juga memberikan kisah Yohanes Pembaptis. Yohanes Pembaptis mengenali Tuhan bahkan dari dalam kandungan dan menjadi saksi untuk-Nya. Yohanes mengingatkan kita bahwa Allah bebas bertindak melampaui perjanjian Allah karena tidak ada batas untuk cinta, keadilan, dan belas kasih Allah. (UAP 3) Mengenal Kristus selalu diikuti misi untuk membuat-Nya dikenal (menunjukkan jalan kepada Tuhan) dan untuk menawarkan rahmat-Nya kepada semua orang, terutama yang miskin dan tersingkir (UAP 2), dan kepada semua ciptaan (UAP 4). Hal ini diperteguh dengan Pemazmur yang berbicara tentang tanggung jawab Raja atau pemerintah untuk melindungi orang miskin dan lemah dari kekuatan ekonomi dan penganiayaan.

Masa Adven mengundang kita untuk memilih dan menentukan jalan baru, jalan Tuhan, jalan di dunia yang menunggu dan merindukan Tuhan, bahkan ketika belum tahu saatnya. Lewat kisah Yohanes Pembaptis yang menyerukan pertobatan untuk menyambut kehadiran Tuhan, kita diingatkan bahwa kehadiran Tuhan selalu menjadi peristiwa pengambilan keputusan. Kita tidak dapat  netral di hadapan Kristus. Ia meminta kita untuk memilih bertobat atau tidak, dan karena itu kita membutuhkan rahmat, ‘untuk menilai secara bijaksana hal-hal duniawi dan memegang teguh hal-hal surgawi.’

Refleksi

Bagaimana hidup dan persahabatanku bisa menunjukkan hidup baru dalam Roh Kudus ini? Atau, apakah aku sudah menemukan rahmat yang aku cari? Bagaimana aku menanggapi-Nya?

Percakapan dengan Tuhan

 Bagaimana aku lebih bisa menyerupai Kristus dalam pikiran, kasih, kata, dan perbuatan.

Please follow and like us:
error0
Tweet 20
fb-share-icon20

Leave a comment